Monday, November 30, 2009
antara semalam dan hari ini
tapi g tahu bisa dibuka nggak ya...
Nasib penulis pemula..
Kesulitan bagi sebagian besar penulis pemula biasanya bukan masalah menulis itu sendiri lagi, melainkan bagaimana memasarkan karya-karya mereka. Persaingan memperebutkan jatah di mass media maupun penerbit sangatlah berat. Berkompetisi dengan para penulis beken jelas kurang menguntungkan karena bukan persaingan yang seimbang. Jika kelayakan suatu karya dimuat hanya berdasarkan kualitasnya, saya percaya banyak penulis pemula akan berhasil mempublikasikan karya tulisnya. Akan tetapi jika yang menjadi penentu adalah track record penulis, maka pupuslah harapan penulis pemula untuk menyaingi para penulis kawakan. Alhasil bisa ditebak, karena sulitnya karya para penulis pemula berkesempatan dimuat, maka mereka yang tidak kuat akhirnya memilih berhenti menjadi penulis.
Masalah lain yang menguji kesabaran penulis pemula adalah ketika karyanya ditawarkan kepada penerbit. Mereka harus menunggu tanpa kepastian keputusan dari penerbit apakah akan menerbitkan karya mereka atau tidak. Waktu tunggu yang selama berbulan-bulan bisa menyiutkan nyali dan menawarkan hati. Apalagi setelah menunggu sekian lama, ternyata naskah yang dengan susah payah ditulis ternyata di tolak. Lebih mengenaskan lagi jika alasan penolakan semata naskah itu karya dari penulis pemula. Wah, nasib penulis pemula sungguh menyedihkan. Lantas kalaupun naskahnya disetujui untuk diterbitkan, toh tetap masih perlu menunggu sekian bulan untuk naik cetak. Secara logika jika demikian keadaannya, apakah profesi seperti ini bisa diharapkan untuk meraih penghasilan yang besar? Mungkin saja memang bisa seperti rayuan kebanyakan buku yang membahas perihal menulis. Yang jelas faktanya pasti tidak bisa dikatakan gampang.
Bandingkanlah dengan seorang pemula di bidang lain, misal badminton. Setelah mahir bermain, ia bisa mengikuti kejuaraan yang sesuai dengan kelasnya. Di sini tentu peluang pemula di bidang badminton untuk menjadi pemenang lebih besar daripada peluang tulisan seorang penulis pemula dimuat. Hal ini sering membuat frustrasi para penulis pemula. Akan tetapi mau apalagi, dunia penulisan memang begitu, bukan? Saya tidak bermaksud membuat Anda menjadi pesimis, melainkan hanya ingin memaparkan fakta secara objektif.
Selain masalah di atas, para penulis pemula yang karyanya diterbitkan pun masih perlu berjuang agar karya-karyanya diterima oleh masyarakat. Sekali buku karyanya tidak laku, maka tentu pihak penerbit enggan menerbitkan karyanya lagi. Jadi nasib sebagai penulis pemula sungguh memprihatinkan.
Meskipun para motivator menulis sangat gencar memberi motivasi, toh itu hanya menolong agar penulis pemula bisa bertahan. Tapi sampai kapan seorang penulis pemula bisa bertahan dengan kondisi demikian? Memang ada segelintir dari mereka mampu bertahan dan bahkan menjadi penulis top. Namun jumlah ini terlalu sedikit dibanding penulis pemula yang akhirnya memilih berhenti menjadi penulis. Bisa jadi seorang penulis akan selamanya menjadi penulis pemula, bukan karena ia kurang mahir menulis melainkan hanya belum berhasil meraih track record.
Berjuang Meraih Track Record
Tidak dapat disangkal lagi setiap penulis pemula memerlukan track record untuk menopang karirnya. Tanpa track record, penulis pemula akan sulit memasarkan karya-karyanya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa kebanyakan redaktur media massa maupun penerbit cenderung lebih menghargai karya penulis yang sudah mempunyai nama. Dengan track record, peluang untuk bisa mengubah nasib penulis pemula menjadi penulis yang diterima tentu lebih besar. Sayangnya dalam upaya meraih track record, nasih baik juga kerap kali menghindar dari genggaman para penulis pemula. Mungkin mereka telah mengirimkan ratusan karya tulis tetapi hasilnya tetap nihil. Lantas bagaimana solusi yang jitu untuk masalah ini?
Untunglah kini dengan adanya pelayanan internet, para penulis pemula bisa menulis di internet. Meski tidak ada honornya, akan tetapi jika mereka aktif menulis di internet, maka nama mereka akan semakin banyak dikenal orang. Dengan demikian diharapkan mereka akan mendapatkan track record sebagai penulis yang naskah-naskahnya layak dimuat dan dibaca oleh khalayak. Ini sungguh suatu modal untuk mengubah nasib mereka.
Sayangnya tidak semua penulis pemula mau memanfaatkan pelayanan internet. Sikap demikian tentu sulit menggubah nasib mereka. Akhirnya semua kembali kepada penulis pemula sendiri apakah dia sudah pasrah dengan nasib sebagai penulis pemula? Atau mau memanfaatkan fasilitas internet untuk meningkatkan kemampuan menulisnya dan mendapatkan track record dari khalayak? Mungkin menulis itu memang gampang, tetapi bagi sebagian penulis pemula yang sulit adalah mempublikasikan dan memasarkan karya mereka.
Penulis. Peng Kheng Sun – copy from penulis lepas.com
Sunday, November 29, 2009
salahkah sikapku atas tawaran bantuannya??
ditengan petjalanan, diriku mangku dek aisy..sampai tidur.. tiba2 kurasakan perutku sakit..ane tahan dari perjalanan berangkat sampi pulang
mana pulang pakai mampir2 segala,tapi berhubung cuma nebeng ya nurut ajah deh..
sesampai ditempat manda ane langsung pamit coz nahan sakit, ane nggak mau ngrepotin orang...ya udah dijalan ane cengar-cengir nahan skait perut..udah hampir nangis,,,eh tiba2 motor berhenti....yaahhhh..bensin habis..padhala sebelum benrangkat kekartasura tadi pagi daha ne isi..tpi berhubung motor unik,,ya udah sabar deh..nuntun nyari penjual bensin yang udah kelihatan agak jauh..
tiba2 datang seorang ikhwan dibelakangku,,nawarin bantuan,,,ia nawarin agar ane naik ke motor trs ia dorong dari belakang dengan kakinya sedang ia tetep dimotornya..kontan ane tolak."nggak usah, maksih ,,tuh deket kok yang jual bensin.."tolaku.."jauhhh..percaya deh.."kata dy
ane coba tolak lagi"nggak usah kaisan kakinya..." dia tetep keukeuh...
ane bilang" aduh kayaknya giman githu,,bener deh nggak usah.."
"ane nggak akan sentuh deh,,kamu naik ajah,,saya dorong dari belakang, gpp..jauh lho.."ia pun berfikir kalau ane nolak gara2 takut tersentuh ma dia..
"ia saya tahu,,,tapi saya kasian kakinya..."
"gpp,,ini mumpoung saya udah nawarin lho..."
"iya..masaih..mas udin kan??"tanyaku..ya ia kakak tingkatku di Rohis SMU dulu
"iya..makanya,,ayo naik,,"
"nggak usah mas,,"tolakku
"ya udah..beneran nieh..."
"iya...makasih itu yang jual bensin dah deket kok,,"
"ya udah saya tinggal ya..??"
"ya..."
akhirnya ane lanjutkan nuntun sepeda motormmjah jauh juga,,3 penjual bensin yang deket lagi tutup...duh..mana perutmasih aja sakit...
tapi setidaknya ane punya alasan dalam penolakan tadi
yang pertama sepertinya nggak etis ketika dia mendorong motor ane,,
walau kayaknya kita pernah kenal..tapi takut khalwat dan fitnah dilihat orang lewat
kedua, enggak enak ngroptin orang dorong2..kayaknya berat..
ya, kan mending si mas tadi nawarin beliin bensin,,akn ane trima deh..cuma karena sakit perut dan nggak konsen nggak kepikira githu,,tapi kalau dipikir2 etis nggak sieh nyuruh orang beliin bensin??hehhehe
ahh,,rasanya dirumah jadi mikir si mas tadi tersinggung nggak ya dengan sikap ane???
apakah siakp ane salah??
ahhh sebodo teinggg...
