Wednesday, March 11, 2009
Dibalik Bercandanya ummi kemaren *ternyata ana belum mandiri
tadi ada acara di rumah kepsek, syukuran plus khataman
pulang cuapek....
sesampai dirumah, lewat dapur kudapati ummi lagi asyik masak..
humm..
tiba-tiba ummi tanya" nang omahe lek mario gelem ora??( kerumah lek/pak lik/paman mario mau ndak?? ),,,
ana mikir,,,nggak ahhh...jauh di jatim,,trus pasti mbolos kerja..dah sering ijin nih..
ditambah lagi, ana tuh nggak akrab sama adek-adek ummi...lagipula kalau adek-adeknya ummi pada pulkam ana sering jadi orang aneh yang pendiem..inget masa kecil dulu sering dihukum mereka dengan gaya militer...diiket ditiang rumah, di siram air dikamar mandi dsb...maklum adeknya ummi tuh ana obsesi masuk ABRI dulu..pokoknya ana tuh nggak mau inget masa-masa itu..
akhirnya ana jawab.."emoh ahhhh"
paling nih paklekku tuh istrinya melahirkan..
"yo wis yen ora melu,,aku njuk sangu..(ya udah kalau nggak ikut aku minta uang saku)"jawab ummi senyum-senyum..
"yah..pinten??(berapa??)tanyaku manyun,,,
"yo sak akeke..(ya sedikasihnya)"jawab ummi, masih senyum-senyum
ana sih cuma diem dan asyik dengan gaya binggung..
Yah,,ana tahu ummi bercanda..
ummi nggak pernah meminta ana untuk memberikan uang tiap bulan
atau apa..apalagi ana masih kuliah,,
ia selalu kuatir dengan keadaanku justru ketika ana pusing banyak pengeluaran
beda dengan bapak yang kesan cuek karena ia pikir ana bisa melewatinya
tapi setelah itu ana berfikir
"yeah..apa yang sudah ana lakukan selama ini..diusia yang udah nggak bisa dibilang muda
ana belum bisa bantu apa-apa sama ortu....hiks..hiks..
apa sih yang udah ana beri ke ortu....
yah, kalau dibilang kerja sejak dulu sih ada
tapi sampai detik ini nggak ada yang tersisa
tabungan juga nggak punya...
ummi...
maafkan anakmu ini ya..
memang benar kekuatiranmu
kala sebuah diskusi kecil disela-sela agenda"nyuci baju bersama"
atas kekuatiran ummi..bahwa ana harus bisa lulus dan segera bekerja*ummi memang nggak tahu aktivitas kerjaanku dulu-sekarang, yang ia tahu ana kuliah aja
ana juga ngerti ummi nggak nuntut apa-apa
cuma ada harapan "kemandirian" dari dlam diri
yeah..Ummi..
doakan anakmu yang dalam proses menjadi ini....
Tuesday, December 16, 2008
akhwat kudu mandiri..??
Terdengar tangis seorang ibu engan mendekap anaknya ketika jenasah suaminya diangkat..
sayup-sayup terdengar kata-katanya"nanti kalau ada apa-apa sapa yang akan bantu?"
para family dan tetangga berusaha menghiburnya..
Beberapa waktu lalu ummi angkatku juga minta bantuanku untuk menemani tinggal seorang ummahat,karena suaminya kuliah lagi di Inggris..
atau terkadang mendengar cerita seorang ummahat yang iri melihat pasangan suami istri yang belanja di super market bareng,sedang ia tidak..ngapa-ngapa sendiri karena suaminya kerja di luar kota..
Sekilas hasil analisa saya*lebay..
Ternyata keberadaan seorang suami begitu berharga,
akan tetapai sekarang pertanyaanya,bilamana ketika suami itu eninggal dunia??
bukan maksud mendo'akan..akan tetapi sekedar wacana..
apakah dunia akan kiamat,atau bumi berhenti berputar??
Jawaban pasti kehidupan akan tetap berjalan..
bagaimanapun keadaan si istri..
Ia harus tetap hidup,pun kalau ia punya anak ia mesti harus menghidupi anaknya..
Untuk itu diperlukan kemandirian dari seorang akhwat..bukan hanya dalam kondisi tidak ada suami,or lelaki dirumahnya..
Ia harus bisa berlatih menghandle apa yang ia bisa perbuat,baik dikala suami hidup or tiada..
Akan tetapi jangan pernah mengerjakan apa-apa sendir ketika suami masih ada,karena adakalanya si suami merasa nggak dibutuhkan..dan hal itu sangatlah nggak baik bagi kehidupannya kedepan..
Untuk itu tidak ada salahnya seorang wanita,tidak terlalu bergantung pada suami..
Tapi bukan berarti lepas sama sekali
