Showing posts with label perjuangan. Show all posts
Showing posts with label perjuangan. Show all posts

Sunday, December 6, 2009

belajar dari seorang akhwat yang menjelang akhir hayatnya masih memikirkan dakwah

subhanallah,,ketika hamba tidak bertemu dengan beliau secara fisik tapi setidaknya
ada haru ingin bertemu dengannya di Jannah_nya kelak..aamiin..

sebuah kisah nyata, semoga kita bisa ambil hikmahnya

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Thursday, June 07, 2007
Sepucuk Surat dari Sahabat Dakwah FSLDK (We Miss U)

Hujan semakin deras mengguyur Depok. Jaket hijauku kurapatkan ke tubuh. Masjid Ukhuwwah UI cukup sepi, hanya beberapa orang ikhwan terlihat asyik menekuri mushaf Al-Quran di lantai bawah. Aku tidak mungkin balik ke Surabaya hari ini, karena besok masih ada bahan proposal yang harus aku cari di perpustakaan.

Alhamdulillah, ada adik ikhwan teman seperjuangan FSLDKN XII yang akan menjemput. Sekedar mengusir sepi, kuayun langkah ke arah mading. ‘Info FSLDK’, tulisan itu segera menyita perhatianku. FSLDK kembali mengadakan aksi serentak penolakan terhadap pelarangan jilbab di sekolah negeri oleh pemerintah Perancis. Targetnya Kedubes Perancis untuk Indonesia ‘di-PHK’.. Wonderfull! Ghirahku menggelora. Aku ingat semua kenangan setahun lalu, suka duka FSLDKN XII.

“Afwan Mas, ana telat”. Suara seorang ikhwan mengagetkanku. Beriringan kami menuju mobil di depan gerbang mesjid. Di sepanjang jalan, Ahmad dengan sedih bercerita tentang kondisi tim FSLDK sekarang yang kurang semangat, kurang solid dan sederet kondisi lainnya. “Untuk mengkoordinir aksi jilbab Perancis itu saja sulit”, katanya.

Rona sedih mulai membayang di wajahku. Teringat betapa ikhwah-ikhwah sebelumnya yang penuh ghirah mengemban amanah ini. Aku ingat, waktu itu juga kami sempat mengalami ‘kelemahan ghirah’, sampai seorang ukhti mempersembahkan sebuah rangkaian kata mutiara yang tersusun indah, sebuah taushiyah. Seorang ukhti yang selalu mengusung amanah dakwah dengan penuh ghiroh jihad, walaupun kanker tengah menggerogoti tubuhnya. Semoga Allah merahmatimu di FirdausNya, ukhti fillah!

Untuk antum yang sedang mengemban amanah di Lembaga Dakwah Kampus –bersama Forum Silaturrahminya- serta antum yang mengemban amanah di wajihah mana pun, kubuka kembali copy surat taushiyah yang masih kusimpan indah sampai hari ini. Semoga untaian hikmahnya menyalakan kembali ghiroh juang kita, di wajihah mana pun kita.

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Subhanallah, nahmaduhu wa nastaghfiruhu, Ash-sholatu wassalamu ‘ala rasuluhu, Muhammad SAW.

Ana awali tulisan ini dengan merangkai basmalah dan istighfar, semoga Allah menjaga untaian kata ini dari berbagai fitnah, dan menjadikannya semata untuk perbaikan dakwah. Sebab, pada Allah lah semuanya bermuara. Nur-Nya lah yang akan mampu menunjuki kita pada perbaikan kualitas dalam mengemban amanah mewarisi misi para Nabi ini, Insya Allah.

Bersama bait-bait nada ‘La Tas-aluni’ dari klub nasyid Tarbiyah, ana menekan tuts-tuts keyboard, mengajak kita semua merenungi kembali dan bertanya kembali tentang kehidupan kita ini. “La tas-aluni ‘an hayati, fahia asrorul hayat …” (Jangan kalian tanya tentang hidupku. Ia adalah kehidupan yang penuh misteri... )

Kesempurnaan adalah sebuah hal yang mustahil kita raih, dalam kapasitas apa pun. Namun, cukup lah ke-Maha Sempurna-an Allah menjadi motivasi bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas amal kita. Karena, kita bergantung kepada zat yang Maha Sempurna, akan kah kita ‘merasa nyaman’ dengan berbagai kekerdilan diri kita tanpa upaya perbaikan yang kontinyu?

Ikhwah,
FSLDK adalah sebuah amanah besar yang ada di pundak kita saat ini, dan di sekeliling kita, begitu banyak ikhwah yang setia menanti karya-karya besar kita untuk akselarasi dan sinergisasi gerak dakwah lewat wajihah Lembaga Dakwah Kampus ini. Perjalanan amanah ini menuntut profesionalisme kerja dari kita semua. Amanah yang nantinya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ikhwah,
Adalah layak untuk kita mengevaluasi perjalanan amanah kita sampai hari ini. Sudah optimalkah kita menjalankan amanah kita? Puluhan juta, bahkan ratusan juta dana yang kita habiskan tiap dwitahunan dalam washilah FSLDK, adakah itu sebanding dengan manfaat yang kita peroleh dalam penataan LDK se-Indonesia? Mari membuat daftar pertanyaan sebanyaknya!

Ikhwah,
Kalau jawabnya kita belum optimal, apa penyebabnya? Apakah pemahaman kita tentang washilah ini yang kurang, kemampuan kita kah yang terbatas, atau –naudzu billah- ruh dakwah kita kah yang mulai hambar? Kalau jawabnya tidak sebanding, apa yang harus kita lakukan? Manajemen kita kah yang harus diperbaiki, atau memang washilah ini kurang tepat guna?

Mari cari jawaban dari tiap pertanyaan itu!

Ikhwah,
Ana –dan ana yakin antum juga- punya sebuah ‘mimpi indah’. Mimpi yang membuat ana sedih, ketika di pagi hari ana dihadapkan pada kenyataan bahwa ana harus membuka jendela kamar. Kesedihan yang kemudian ana sadari semestinya menjadi bahan bakar ruh jihad dan nafas harokah islamiyyah. Antum tau, ketika itu aroma yang tertangkap oleh indera pembau adalah aroma kering … aroma kelelahan zaman menanti hadirnya sosok-sosok mujahid dakwah yang mengusung SEMANGAT BARU, menapaki jejak-jejak pemuda Ash-Habul Kahfi mencari ridho Ilahi.

‘Kegelisan zaman itu seakan berbisik lewat angin yang berhembus perlahan, bersama mentari yang mengintip malu di balik awan. Dia bergumam: kapan kah gerangan para warotsatul anbiya’ itu berteriak lantang untuk menebar semerbak harum syariat Islam di bumi ini?

SEMANGAT BARU JEJAK PEMUDA ASH-HABUL KAHFI MENCARI RIDHO ILAHI …………………….

Mimpi itu ikhwah, ana yakin bukan lah cerita negeri dongeng, atau lakon kartun yang utopi. Mimpi itu hanyalah sebuah harapan sederhana, yang berkisah tentang dakwah yang semerbak, bak bunga-bunga mekar di taman firdaus.

Bayangkan ……………..

Suatu hari antum terbangun di sepertiga akhir malam, sekitar jam 3 WIB. Setelah memanjatkan doa, antum bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Air wudhu mengaliri anggota tubuhnya meninggalkan kesejukan yang lembut. Lalu pakaian sholat yang harum mulai antum rapikan di tubuh yang ringkih ini. Sesaat sebelum lafaz niat qiyamullail antum lantunkan, indera pendengar antum menangkap sayup-sayup suara tangis yang syahdu menyayat hati. Subhanallah, suara itu milik tetangga sebelah kanan rumah yang sedang qiyamul lail juga. Bukan suara tangis menahan malu karena aib yang tercoreng akibat pergaulan anak gadisnya, bukan pula korupsi yang dilakukan sang ayah atau sejenisnya. Antum pun tertegun sesaat, sembari menggeser posisi sajadah yang mulai ‘kumal’ di ujungnya, pertanda sering dipakai sujud.

Tarikan nafas perlahan berusaha menghadirkan segenap molekul tubuh, dalam ‘perjalanan cinta’ yang akan antum lakukan, menemui zat yang antum akui sebagai Ilah, zat yang padaNya, semua harap dan cinta bermuara. “Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu, hal adullukum ‘alaa tijaarotin tunjiikum min ‘adzabin aliim? Tu’minuuna billaahi wa rosuulihii wa tujaahiduuna fi sabiilillah …” lamat-lamat lantunan kalam ilahi itu kembali menyita perhatian antum. Suara itu mengalun syahdu diiringi sesekali isak tangis, seirama dengan tiap kata yang terucap. Pemiliknya tak lain adalah pemuda tetangga sebelah kiri rumah antum.

Perniagaan yang menguntungkan … Rabb … indah nian ni’matMu pada kami yang hina ini. Takbiratul ihram pun antum lantunkan penuh kasyahdua., Kesyahduan yang membawa rindu membuncah, bertemu dengan Rabb sekalian alam.

Suara adzan di masjid mengakhiri untaian do’a panjang antum. Sebuah doa yang berisi pengaduan akan begitu banyak kelemahan dan kesalahan diri, dalam mengemban amanah menjadi khalifah Allah di bumi, amanah yang sebelumnya ditolak oleh seluruh langit dan bumi. Do’a itu berharap pula akan pertolongan Allah untuk para mujahidun di berbagai belahan bumi. Mereka … para pahlawan sejati yang telah menukar Ridha Allah dengan harta, tenaga, dan jiwa mereka.

Mereka … para petarung yang tak pernah surut walau selangkah, dan tak pernah henti walau sejenak. Mereka yang dengan lantang selalu meneriakkan: ALLAHU AKBAR!!! Dalam tiap ritme perjuangannya.

Hampir saja antum tidak mendapat tempat dalam barisan jamaah shalat shubuh, karena antum tiba terlambat, tepat saat muadzzin membaca iqomat. Seluruh jamaah berdiri dalam shaf yang rapi. Pakaian rapi melengkapi wajah-wajah teduh yang selalu terbasuh air wudhu itu. Allah … serasa shalat bersama jamaah para shahabat, degan Rasulullah SAW menjadi sang imam. Kerinduan akan jannahNya semakin membuncah.

Jam menunjukkan pukul tujuh ketika antum membaca doa keluar rumah, dan mengawali langkah dengan kaki kanan. Antum akan menuju kampus hari ini. Di halte, bus kampus berhenti ‘menjemput’ antum. Dengan riang antum menyapa pak sopir lewat salam : “assalamu’alaikum pak, shobahal khoir …”. Tentu antum tak perlu berkelit kesana kemari menghindari bersentuhan dengan non-mahrom, karena bus hanya terisi kaum sejenis dengan antum; Tak Ada Ikhtilath!

Sampai di kampus, antum menikmati kuliah dengan tenang, tanpa harus khawatir akan terkena zina mata, zina hati de-el-el, karena semuanya berjalan dalam sebuah sistem qurani.. Setiap bahasan akan mampu meningkatkan ruhiyah antum. Satu lagi … semua fasilitas dapat antum nikmati GRATIS!, karena zakat, infak dan shadaqah kaum muslimin lebih dari cukup untuk membiayai semuanya. SUBHANALLAH ….!!!

Innamal Mu’minuuna ikhwah … Hari itu antum lalui dengan aktivitas yang membangun ‘kesalihan pribadi dan ummat’. Antum saksikan pula bagaimana Allah memenangkan hambaNya lewat ukhuuwwah yang terangkai indah. ISLAM ADALAH RAHMATAN LIL ‘ALAMIN.

Sekarang … buka lah mata antum, lihat lah kembali realita! Ternyata, kita belum dalam dunia indah tadi! Kita masih di sini! Di Sumatera, di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua … yang masih menanti perjuangan para mujahid. Kita masih berjuang di sini! Di FKI Rabbani, Salam, Gamais, JN UKMI, JMMI, Pusdima, Sentra Kerohanian Islam, UKM Birohmah, dan lainnya. Berjuang lewat wajihah LDK tuk sebuah tujuan mulia: TEGAKNYA IZZAH ISLAM WAL MUSLIMUN!

Dan … perjalanan perjuangan itu ikhwah. Masih jauh … hampir tak bertemu ujung. Penuh aral nan melintang, penuh onak dan duri. Karena Langkah ini adalah langkah-langkah abadi. Menapak tegak laju tanpa henti. Tak pernah rasa rugi menapak jalan ini, Syurga Allah menanti

Sekali lagi ikhwah, kita masih di sini! Di jalan dakwah ini! Kita di sini untuk berjuang! Setia mengusung cita: HIDUP MULIA ATAU SYAHID MENGGAPAI SYURGA!

Karena itu ikhwah … Mari berkarya, dengan yang terbaik yang kita punya tentunya. Jangan pernah malas dan jemu berkorban untuk perniagaan ini! Berjuanglah ikhwah! Dan teruslah berjuang! Sampai Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin menjadi saksi akan perjuangan itu. AllahuAkbar!!!

ukhti uni
Eramuslim, 19/02/2004

Friday, November 28, 2008

Tentara-tentara Allah


Oleh : Ahamd Nurullah Al Banjari

  “Kepung dari arah selatan yaa Bislan!!!”, teriak Mughits. AK 47 nya bergetar menghujani tentara-tentara Rusia yang sudah terkepung itu. Mereka terkejut dan kacau balau di jalan raya antara kota Serzhen Yurt dan Vedeno. “Awas!!!, yaa Rojih…, Mughits mendorong Rojih  kesebelah kanan, ketika berondongan peluru Rusia mengarah kepadanya. Tak ayal lagi tubuh mereka bergulingan diatas tanah yang tertutup salju tebal itu. Dan sebutir pelurupun sempat bersarang dibahu Mughits, perih!, dan darahpun mengalir dari luka tembak itu. Namun keduanya segera bangkit dan kembali membalas tembakan-tembakan tersebut. Sebuah granat tangan yang dilembarkan oleh Bislan Ahmad menghancurkan sebuah truk Rusia dan membunuh beberapa orang pasukan yang berlindung di sampingnya. “Maju sekarang!!!, AllahuAkbar…”, teriak Mughits Saifuddin kepada pasukannya. Semangat tempur pasukan unit pengintai itupun semakin besar karena kerinduan akan mati syahid pada setiap pertempuran yang mereka lakukan.

     Tidak sampai satu jam penyergapan gabungan dua pasukan Mujahiddin itupun akhirnya meluluhlantakan keangkuhan pasukan kafir yang selama ini membunuhi kaum muslimin di Chechnya. Penyerangan itu diawali dengan terdeteksinya pergerakan pasukan Rusia yang akan melewati jalan raya tersebut oleh pasukan unit pengintai pimpinan Mughits Saifuddin. Dengan dibantu oleh pasukan unit tempur Mujahiddin dibawah pimpinan Abu Ja’far mereka telah berhasil menghancurkan konvoi 23 kendaraan militer tersebut. Diantara kendaraan yang hancur adalah 10 buah truk, 4 BMP kendaraan pengangkut pasukan, satu kendaraan tempur shilka dan beberapa jenis  kendaraan militer lainnya. Serta terbunuhnya sebanyak 56 Tentara Rusia dalam sergapan yang mendadak tersebut. Alhamdulillah… yaa Allah, satu lagi bukti kekuatan pasukan Mujahiddin di Checnya yang mengalahkan pasukan kafir Rusia. Rojih Walid mengobati luka Mughits. Mereka bersahabat sejak masih kanak-kanak, keduanya adalah mujahiddin yang hebat dan gagah berani. “Mughits… segala puji bagi Allah Robb semesta alam atas pertolonganmu, semoga Allah memanjangkan umurku agar dapat membalasnya”, ucap Rojih pelan. “Alhamdulillah… yaa Rojih, belum saatnya engkau syahid.” Jawab Mughits singkat. “Aku sebagai komandanmu bertanggung jawab kepada setiap pasukanku, bukankah begitu ajaran Rasulullah kepada kita…”. Sambung Mughits kepada Rojih. “Saudaraku… Rojih, Allah akan memilih siapa diantara kita yang akan lebih dulu berjumpa dengan-Nya” . Pembicaraanpun berakhir ketika Rojih selesai membalut luka sahabatnya. Mughits mengajak Rojih untuk menghampiri ketua pasukan tempur Abu Ja’far yang sedang memeriksa keadaan pasukannya. “AllahuAkbar…”, teriak ketua pasukan tempur Abu Ja’far yang kemudian disambut oleh seluruh pasukan Mujahiddin, “AllahuAkbar…”. Abu Ja’far merangkul Mughits Saiffudin dan merekapun terharu dapat berjumpa kembali dan kemenangan dalam pertempuran ini. Tidak berapa lama, kedua pasukan itupun berpisah. “ila liqo, Assalamu’alaikum…”, ucap Mughits dalam perpisahan itu. Dan dijawab oleh seluruh pasukan Abu Ja’far kemudian merekapun berpisah.
***          

  Malam hari didaerah pegunungan sebelah selatan wilayah Alshin-Yurt sunyi senyap, tak ada suara, hanya suara binatang hutan yang sesekali terdengar. Cahaya rembulan separuh katup diatas sana hanya mampu memberikan bayang-bayang. Angin dingin yang basah meniup dedaunan pohon yang memutih diselimuti salju. Pasukan Mughits Saifuddin sedang beristirahat didekat danau kecil yang tenang. Terlihat beberapa pasukan berjaga-jaga dengan sangat waspada. Seusai sholat lail tadi Mughits belum lagi tertidur, perjumpaan dengan ust Abu Ja’far beberapa hari yang lalu kembali membongkar kenangan Mughits akan peristiwa 10 tahun yang lalu di ibukota Checnya, Grozni.       

     Selepas ditarik mundurnya pasukan mujahiddin dari Grozni, pihak Rusia memasuki ibu kota yang telah porak-poranda oleh bom Rusia. Mereka melakukan penyembelihan, penjarahan, dan pelecehan-pelecehan terhadap warga. Penduduk laki-laki mereka bunuh, kaum wanitanya mereka perkosa. Tidak kurang dari 90 penduduk mereka bunuh saat itu. Termasuk didalamnya keluarga Mughits yang ditangkap dan akhirnya dibunuh. Saat itu umur Mughits baru 12 tahun ia selamat karena pertolongan dari ust Abu Ja’far yang saat itu menjabat sebagai komandan unit pengintai. Masih jelas dalam ingatan Mughits peristiwa pembantaian terhadap keluarganya itu.         


   “Hei … bangsat!!!, teriak prajurit Rusia itu memaki ayah Mughits. Sebuah tendangan sepatu laras melayang kemuka ayahnya. “AllahuAkbar…,” desis ayah Mughits. Dibawah todongan senjata dan tangan yang terikat tak ada yang bisa dilakukan Abu Saif, panggilan ayah Mughits. “Katakan dimana tempat para gerilyawan itu!!!”, teriak komandan pasukan Rusia Reckber Krucnichev. Abu Saif diam, hanya kalimat takbir yang terus terucap dari mulutnya yang pecah berdarah. “Katakan dimana?”, “plak…”. Sebuah pukulan senapan mengenai kepala Abu Saif. Darah mengucur dan Abu Saif tersungkur ditanah. Namun keteguhan hatinya akan Islam membuatnya bangkit. Isterinya Zulfa Aminah hanya menunduk tak ingin melihat suaminya disiksa. Namun iapun tak sudi memperlihatkan kelemahannya dengan menangis. Beberapa orang prajurit memegangi dan menghajar Abu Saif sampai pria itu tertelungkup ditanah. Tanah yang memutih itu kini berubah warna menjdi merah, karena tetesan darah Abu Saif. Berbagai usaha telah mereka lakukan tapi tak juga bisa membuka mulut Abu Saif. Tak berhasil dengan Abu saif yang sudah bersimbah darah dengan luka-luka sayatan ditubuhnya dan tercabuti kuku jarinya., mereka berpindah ke Zulfa Aminah.      

      “Hei cantik katakan dimana para tentara gerilyawan itu?”, bisik komandan pasukan Rusia itu ditelinga Zulfa. Tangannya membelai pipi Zulfa. “Cuh…”, jauhkan tangan najismu dari wajahku. Ludah Zulfa kewajah Reckber. “Kurang ajar..!!” Plak, sebuah pukulan keras mendarat diwajah Zulfa. Wanita itu tidak menampakan kesakitan, dari bibirnya yang berdarah itu iapun berucap, “Wahai orang-orang kafir ingatlah suatu saat kalian akan merangkak memohon ampun, namun semua itu sudah terlambat karena kalian akan musnah dan hancur oleh tentara-tentara Allah. Walaupun kau rusak tubuh ini, kau potong-potong tubuh ini kami tak akan pernah takut dan gentar sedikitpun. Karena dari tiap potongan tubuh ini akan menjadi saksi kami dihadapan Allah, bahwa kami adalah para syahid syahidah yang telah berjihad demi Allah.”            

  Reckber semakin marah, dan iapun berniat hendak memperkosa Zulfa, tangannya terulur menarik khimar Zulfa, wanita itu berusaha bertahan, namun apalah daya tangannya terikat sehingga lepaslah khimar itu. Reckber semakin bernafsu melihat kecantikan Zulfa. Sehingga ia pun menerjang dan hendak membuka jilbab yang menutupi tubuh Zulfa. Abu Saif menerjang, ”AllahuAkbar, kakinya yang tak terikat menendang muka Reckber dan sejurus kemudian tendangan keduanya tepat mengenai organ vital laki-laki itu. Reckberpun tersungkur, dan sangat kesakitan. “Bunuh dia….,ahk…bunuh dia!!!”, teriak Reckber. Serta merta pasukan Reckber menghujani Abu Saif dengan berondongan peluru. Ingin rasanya saat itu Mughits keluar dari tempat persembunyiannya ikut membantu Abinya namun rangkulan dan ucapan Abu Ja’far menghentikannya. “Kita tak bisa berbuat apa-apa jumlah mereka terlampau banyak, kita akan kembali dan menghancurkan mereka.”     

       “AllahuAkbar….”. Abu Saif pun jatuh dengan puluhan lubang peluru ditubuhnya. Syukurlah Zulfapun turut syahid bersama suaminya, Allah menjaga kehormatannya. Beberapa peluru telah merobek dadanya. Selamat tinggal Abu Saif, selamat tinggal Zulfa. Kalian akan berbahagia disisi Allah. Mughits meneteskan airmata, perih hatinya mengingat peristiwa pembantaian di Grozni itu. Begitu kejam, tak berperi kemanusiaan. Seorang wanita diperkosa beramai-ramai kemudian dibunuh dengan sadis, kepala yang terpenggal, darah berceceran dimana-mana. Tiada lagi kemanusiaan. Lalu dimana PBB, dimana Hak Asasi manusia, semua hanya omong kosong. Umat Islam tak akan mendapatkan HAM dari barat yang berstandar ganda itu. Kenangan itu mencabik-cabik hati Mughits, dadanya bergelegak, serasa akan pecah. Perjuangannya belum berkahir. Air danau yang keperakan terkena cahaya bulan memantulkan cahaya yang redup itu kepepohonan. “Yaa… Robbku, pertemukanlah aku kembali dalam pertempuranku dengan pembunuh kedua orang tuaku, pertemukanlah aku dengan musuh yang paling tangguh sehingga aku syahid dan berjumpa denganMu”. Do’a Mughits dalam munajatnya. Mughits kembali mengamati pasukannya, besok pagi mereka akan berangkat untuk bergabung dengan pasukan tempur besar para mujahiddin yang akan menyerang kedudukan pasukan Rusia di ibu kota Grozni. Kesempatan untuk kembali kekota kelahirannya. Kesempatan untuk menghancurkan keangkuhan dan kesombongan Rusia. Kesempatan untuk membalas pembantaian kaum muslimin dan kedua orang tuanya. “Kesempatan untuk syahid….”, ucapnya. Namun sebelum itu ada tugas menantinya, yaitu menghancurkan konvoi yang akan melalui lembah ini besok. “Abi…, Umi… tunggu Saif…” ucap Mughits lirih.  

***       

     “Blarr!!!”. Ledakan dahsyat dari ranjau-ranjau yang telah disiapkan oleh pasukan Mughits di sepanjang jalan yang dilalui oleh konvoi kendaraan Rusia tersebut telah menghancurkan 2 buah truk Rusia dan membuat kocar-kacirnya pasukan Rusia. Berbarengan dengan itu, “AllahuAkbar…, tembak…”, teriak Mughits. Serta merta hujan peluru membuat pasukan Rusia tak berkutik. Menang startegi dan posisi, pasukan Mughits berhasil membunuh 15 orang pasukan Rusia. Satu lagi tanda keperkasaan pasukan Allah. Setelah selesai mengambil ghonimah berupa persenjataan musuh, Mughits dan pasukannya melanjutkan perjalan menuju Grozni. Untuk bergabung dengan induk pasukan mujahiddin yang dipimpin oleh Shamil Basayev. Pasukan mujahiddin Dhunzula ini, berkekuatan 250 tentara muslim. Mughits dan pasukannya akan menuju pertempuran berikutnya, pertempuran yang lebih besar. Menjemput kesyahidan yang dirindukan.
***            

Salju semakin tebal, hawa dingin menusuk tulang. Pasukan telah disiagakan dan siap pada posisinya masing-masing. Tepat setelah sirene dari pos penjagaan terbesar di Grozni itu berbunyi, saat itulah penyerangan dimulai. Sirene meraung panjang, para mujahidinpun berteriak menyebut asma Allah, “AllahuAkbar…” pertempuran sengitpun terjadi. Kedua belah pihak bertempur mati-matian. Semangat pasukan mujahiddin terbakar dengan takbir, pasukan musuh yang berjumlah sekitar 500 pasukan itu jadi terlihat kecil-kecil dimata mereka. Tujuan mereka menang atau syahid.          

  Disebelah selatan Mughits, merangsek masuk dengan pistol dan AK 47 keareal gudang senjata. Telah banyak pasukan Rusia yang tertembus pelurunya. Dihadapannya kini adalah Reckber Krucnichev. AK 47 sudah kehabisan peluru. Namun Pistolnya masih menyisakan peluru. Tembak-menembakpun terjadi. Rekber tertembak dibahu kirinya, dan Mughits terserempet peluru dibahu kanannya. Peluru keduanyapun kini telah habis. Kedua-duanya kini berhadap-hadapan dengan pisau tempurnya masing-masing.        

    “Sebelum kau disiksa dalam neraka, kau akan merasakan sakitnya penderitaan didunia…”. Kata-kata Mughits meluncur deras sederas serangannya. Keduanya bertarung dengan sengit. Beberapa kali tusukan Reckber melukai Mughits. Namun beberapa kali juga Reckber harus meringis karena punggung dan perutnya terkena sabetan dan tusukan pisau Mughits. Akhirnya Mughits dapat memenangkan pertarungan itu.        

    “Rasakan ini olehmu…, ini untuk Abi dan Umiku!!!”, teriak Mughits. Pisau Mughitspun
bersarang ditubuh Reckber. Kemudian sambil bergulingan mughits mengambil sebuah RGP yang berada ditanah dan menembakkannya ketubuh Reckber. “Ini untuk kaum muslimin yang telah kau bunuh…, AllahuAkbar!!!”. Serangan pasukan Dhunzula ini pun menjadi bukti keperkasaan perjuangan para mujahiddin.           

 Ledakan Dahsyat terjadi, asalnya dari arah selatan tempat Mughits berada. Kebakaran hebat dan kepulan asap tebal membumbung keangkasa. Gudang senjata Rusia itu telah hancur. Tembakan roket dari RGP itu tidak hanya menghancurkan tubuh Reckber saja tapi juga para pengepung Mughits dan juga…. Allah telah memanggil Mughits… Ia telah syahid dengan terbunuhnya puluhan pasukan Rusia dalam ledakan itu. “Selamat tinggal Mughits saifuddin, engkau adalah pedang dien ini, engkau adalah mujahid islam yang gagah berani. Kau susul para syahid dan syahidah lainnya. Allah akan mengampunimu dan setiap serpihan tubuhmu akan menjadi saksimu dihadapan Allah.” Selamat tinggal sahabat engkau telah mendahuluiku…, akupun akan menyusulmu segera,. AllahuAkbar….!!!. teriak Rojih iapun menggempur musuh….. Perjuangan belum selesai, di seluruh negeri kaum muslimin. Palestina, Cehcnya, Afghan, Aceh, Maluku, dan sebutkan sendiri sisanya… mereka memanggil para Mujahid untuk berperang Fi Sabilillah. Kita juga… disini, berjuang dengan seluruh kekuatan kita untuk Islam hingga akhir jaman.        

    Salam atasmu para mujahiddin diseluruh dunia. Kalianlah tentara Allah yang akan bersama-sama Rasulullah disurga. Salam atas para mujahiddin terdahulu, sekarang dan yang akan datang…    

Sobat, jangan pernah terlena,  ingatlah perjuangan saudara-saudara kita dibelahan bumi sana.
 

Catatan sejarah Jiwa Template by Ipietoon Cute Blog Design